Pandangan tentang seniman

Unik, nyentrik, aneh, santai…….ungkapan-ungkapan semacam itni sudah tidak asing lagi bila terlontar dari mulut dari orang yang berkabetulan bertentangga dengan mahluk yang beepredikat Pekerja Seni ini. Apapun yang dilakukan kebetulan tidak sesuai dengan ukuran baku kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya, akan disambut dengan kalimat “Maklum diakan Seniman”,seolah-olah kalimat ini menjadi pembenaran bahwa menjadi seniman sudah pasti akrap dengan atribut keanehan seperti itu.

Menjadi seniman yang hidup ditengah-tengah masyarakat yang heterogen sebenarnya bukan suatu hal yang aneh, kalau boleh dikatakan istimewa. Bagi masyarakat awam, kehadiean seniman ditengah-tengah mereka sering dipandang unik namun bisa memberikan warna lain dalam kehidupan mereka. Hal ini tidak lain karena kebiasaan dan tampilan seniman yang tampak berbeda dengan lingkingan tempat ia tinggal. Dari kebiasaan berpenampilan, pola kerja, kendaraan, dan rutinitas ia sehari-hari, sehingga akan mempermudah orang yang kesulitan mencari alamatnya. Tinggal tanyakan pada tukan becak dan embok-mbok yang berjualan di pinggir jalan, pasti beres.

Pada umumnya, masyarakat beranggapan bahwa kerja adalah : aktifitas pada suatu instansi baik negri maupun swasta. Pergi pagi pulang sore dengan upah nominal sekian rupiah. Sedemikian sulit untuk mengubah persepsi dan pandangan mereka dengan nilai kerja yang sesungguhnya. Kadang pola kerja seniman tidak bisa diatur seperti itu. Lebih disebabkan oleh pengayakan ide-ide kreatif tidak bisa dilakukan dengan secepat menghitung hari. Kalau kita amati lebih cermat, sesungguhnya seniman memiliki jam kerja yang tidak terbatas dibanding masyarakat pada umumnya. Bayangkan saja, ia masih harus bekerja ketika orang lain sudah enak dengan mimpi-mimpinya ( tertidur pulas ) karena seniman memiliki pola kerja dan pola tidur yang tidak teratur dan para seniman menganut faham “sesempatnya” . mereka justru lebih terlihat sungguh-sungguh bekerja dibanding pegawai lain.

Seniman memiliki tanggung jawab yang tidak ringan di dalam masyarakat, disatu sisi dituntut aktif dalam kegiatan bermasyarakat sedangkan di sisi lain harus disibukkan dengan menggali potensi diri dan menumbuhkan ide-ide kreatif. Ketika kedua aktifitas tersebut berbenturan sedah barang tentu harus ada bagian yang tidak dapat di penuhi sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk menghadiri beberapa undangan RT, ronda, bahkan untuk sekedar kerja bakti. Terlebih bila dead linepameran serasa mengejar-ngejar. Waktu yang tersedi8a 24 jam sehari serasa kurang. Sehingga dapat dimaklumi jika ada beberapa seniman cenderung menari diri dan kurang bersosialisasi dengan lingkungannya. Namunh dalam banyak hal, masyarakat membutuhkan peran sesosok seniman. Ketika memasuki wilayah yang memerlukan ide-ide kreatif dan artistik, peran seniman sangat menentukan. Sehingga tanpa disadari, seniman sudah memberikan wawasan penjelajahan kreatif pada masyarakat sekitarnya.

Berdasarkan kebiasaan yang berbeda itulah sehingga seorang seniman mudah lebih dikenali. Terlepas dari tampilan visual karya-karya meraka dan seberapa sering mereka berpameran. Kehadiran seniman ditengah-tengah masyarakat mampu memperkaya atmosfir bagi kehidupan mereka yang selalu penuh dengan rutinitas.

One Response to “Pandangan tentang seniman”

  1. aku setuju dengan itu mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: