Pornografi: Soal Etika, Bukan Estetika

Posted in seniman on December 25, 2007 by desainkomunikasivisual

Pandanganku sebagai edza_nirmana BENARKAH penerbitan foto-foto pamer aurat sejumlah artis model yang dikritik dan diprotes masyarakat itu pornografi? Tidak benar, bantah yang diprotes dan para pendukungnya. Para artis model yang menyediakan tubuhnya dipotret, juru fotonya, yang menerbitkan foto-foto itu, yang mendukung penerbitannya, semua mengklaim, gambar-gambar itu karya seni. Apa Anda tidak menangkap keindahan pada tubuh terbuka dengan pose mana-suka itu berkat kreativitas pencahayaan dan pencetakan yang canggih?

Para pornokrat itu juga membela dari sudut kebebasan pers. Perintah instansi kepolisian menarik peredaran majalah yang memuat foto-foto yang dipersoalkan masyarakat dianggap sebagai pelanggaran langsung atas prinsip kebebasan pers. Sejumlah orang pers sendiri mendukung anggapan terakhir ini. Argumen-argumen membela penerbitan pornografi itu umumnya lemah, namun prinsipial karena menggunakan alasan estetika dan kebebasan pers.

Estetika modernis

Sebenarnya tak ada yang baru dalam kontroversi sekitar pornografi – dari kata Yunani porne artinya ‘wanita jalang’ dan graphos artinya gambar atau tulisan. Sudah dapat diduga bahwa masyarakat dari berbagai kalangan akan bereaksi terhadap penerbitan gambar-gambar yang dianggap melampaui ambang rasa kesenonohan mereka. Seperti biasanya pula, menghadapi reaksi masyarakat itu, para pornokrat membela dengan menuntut definisi, apa yang seni dan apa yang pornografi? Akan tetapi apa yang membedakan foto-foto buka aurat para artis model itu dengan lukisan perempuan telanjang. Affandi misalnya? Mengapa lukisan Affandi (misalnya Telanjang/ 1947 dan Telanjang dan Dua Kucing/1952) dianggap karya seni, sedang foto-foto pose panas Sophia Latjuba dan kawan-kawan dianggap pornografi? Padahal dibandingkan lukisan perempuan telanjang Affandi yang tubuhnya tampak depan tanpa terlindung sehelai benang pun, foto-foto menantang para artis itu tidak secara langsung memperlihatkan lokasi-lokasi vital-strategisnya!

Dari dalam teori estetika, teori tradisional “standar” akan menjawab, perbedaannya terletak dalam cara bagaimana sosok perempuan dengan ketelanjangannya itu diperlakukan atau ditangkap. Kata kuncinya di sini adalah apa yang disebut “pengalaman estetik” yang dirumuskan dalam 3-D: disinterestedness (tak berpamrih), detachment (tak terserap), distance (berjarak – secara emosional). Melihat keindahan, misalnya karya Affandi contoh kita atau ciptaan alam, orang akan mendapat pengalaman estetik, pengalaman yang tak berpamrih apa-apa, tak terserap oleh obyek yang dihadapi, dan secara emosional tetap berjarak. Yang sebaliknya terjadi apabila orang melihat gambar-gambar erotis atau pornografi. Foto-foto erotik dan pornografi itu mengundang pamrih, membuat orang terlibat dan terserap.

Dalam bahasa teori, lukisan perempuan telanjang Affandi menampilkan nilai intrinsik, dan merupakan tujuan pada dirinya sendiri, lukisan Affandi membangun situasi kontemplatif pada peminatnya. Sebaliknya foto-foto panas pada artis model itu menampilkan nilai ekstrinsik, bertujuan lain di luar dirinya (promosi, meningkatkan penjualan, membangkitkan syahwat, kekerasan seksual); foto-foto panas para artis model itu membangun situasi pragmatik untuk bertindak “strategis” (menguasai, merayu, memaksa, dan seterusnya). Pernyataan pengasuh salah satu penerbitan itu “Kami punya segmen pasar sendiri”, sudah menjelaskan ini.

Apakah lukisan perempuan telanjang Affandi tidak mungkin membangkitkan birahi yang melihatnya? Tentu saja mungkin dan bisa. Apabila itu terjadi, atau lukisan Affandi itu gagal sebagai karya seni, atau penonton itu sendiri belum cukup memiliki kesiapan, pengalaman, apresiasi, dan seterusnya untuk memperoleh pengalaman estetik dari melihat lukisan tersebut.

Disamping itu, sebagai karya representasional, seni lukis itu unik, sedang foto-foto perempuan model itu tidak unik. Orang dapat mencetak foto-foto para model itu seberapa pun banyaknya dengan mutu persis sama, tetapi mustahil menduplikasi lukisan telanjang Affandi tanpa kehilangan segala kualitas yang ada pada lukisan aslinya. Pada yang kedua perbanyakan bisa tetap dengan produksi, tetapi pada yang pertama perbanyakan hanya pada tingkat reproduksi. Namun seperti sudah disebutkan, itu adalah faham teori estetika standar dominan, yang kini disebut juga teori modernis. Sejak awal 1970-an faham estetika modernis itu sudah mendapat tantangan kuat dari aliran yang disebut post-modern (posmo) yang menolak pandangan estetika modernis itu.

Teori modernis, sebagai bagian dari pandangan filsafat kemajuan (progress) abad 19 yang menganggap sejarah sebagai proses kemajuan yang berlangsung linier, percaya pada peran besar seni dan seniman dalam yang disebutnya kemajuan sosial. Teori modernis dapat dianggap mencakup seni borjuis dan estetisme, dua tipologi terakhir dari empat tipologi Peter Burger yang dimulai dari Seni Sakral dan Seni Istana. Seni modern telah melepaskan diri dari institusi (gereja maupun istana), membangun wilayahnya sendiri dengan kedudukan seniman yang dianggap otonom.

Bagi estetika modernis perempuan tanpa baju (nude female) tidaklah sama dengan wanita bugil (naked woman). Lukisan Affandi adalah lukisan perempuan tanpa baju, perempuan dalam keadaan alamiah; tetapi pornografi adalah foto-foto wanita bugil atau setengah bugil, wanita yang mempertontonkan auratnya. Ketelanjangan yang diekspresikan lukisan Affandi bukan aspek seksual perempuan itu melainkan apa yang disimbolkannya (kesuburan, kelembutan, dan sebagainya); ketelanjangan yang diekspresikan pornografi adalah keperempuanan yang telah mendapat makna sosial sehari-hari (pembangkit gairah seks, komoditas yang bisa dijual, dan seterusnya). Estetika modernis membuat pagar pemisah antara yang disebut seni murni (high art) dari yang biasa-biasa atau sekadar seni pop.

Tantangan posmodern

Posmodern menolak pandangan estetika modernis itu. Posmo membongkar pagar pemisah seni tinggi dan seni pop, dan menganggap seni tidak bisa dipisahkan dari bidang-bidang kehidupan lain, ekonomi, politik, dan sosial. Apakah seni tinggi atau seni rendah, sama-sama merupakan bagian dari kecenderungan yang mendominasi kehidupan sosial.

Bagi posmodern tak masuk akal membedakan dua perempuan sama-sama terbuka auratnya, yang satu disebut perempuan dalam keadaan alamiah yang lainnya disebut wanita bugil, keduanya adalah perempuan telanjang sebagai obyek. Masalahnya bukan bahwa yang satu karya seniman yang lain bukan, melainkan bahwa perempuan-perempuan telanjang itu, sejak zaman klasik sampai ke mutakhir, ditampilkan sebagaimana lelaki ingin melihatnya. Gambar-gambar perempuan telanjang, apakah lukisan, patung, foto-foto, bagi posmo hanya menegaskan struktur masyarakat yang patriarkis. Taruhlah perempuan telanjang lukisan Affandi hendak menampilkan perempuan sebagai simbol kesuburan, tetapi siapa yang menentukan makna itu?

Karena itu bagi posmo, tak ada gunanya definisi seni, karena masalahnya bukan mendefinisikan apa itu seni, apa itu indah, melainkan siapa yang mengendalikan dan mendominasi kehidupan sosial kita. Yang terjadi selama ini adalah ideologisasi seni, dan dalam soal kontroversi pornografi masalahnya adalah eksploitasi dan marginalisasi perempuan. Ironisnya, para perempuan model itu ikut ambil bagian dalam proses penistaan martabatnya sendiri.

Seni atau bukan, bermutu atau tidaknya suatu karya, bagi posmo tidak ditentukan oleh suatu kriteria obyektif, melainkan oleh ideologi politik yang dominan. Kaum Marxis atau komunis akan membuat kriteria yang disebutnya realisme sosialis dengan semboyan seni untuk rakyat, yang lain barangkali memperjuangkan yang disebutnya humanisme universal dengan semboyan seni untuk seni. Semua aliran itu mengklaim kriterianya obyektif, tetapi sebenarnya tujuannya menyeragamkan ukuran saja.

Posmodern menolak penyeragaman. Bagi modernis kriteria estetik lebih diletakkan pada seniman, pada posmodern kriteria ada pada siapa saja. Memang kritik utama terhadap posmodern adalah relativismenya yang bahkan menjurus ke anarkisme.

Rambu etika dan justisia

Namun jelas sudah, baik estetika modernis maupun posmodern, sama-sama menolak pornografi, meski dengan alasan berbeda. Estetika modernis tegas menganggap pornografi bukan seni dan merekomendasikan agar pornografi ditiadakan atau dikontrol ketat karena secara sosial berbahaya. Estetika posmodern juga merekomendasikan pornografi dienyahkan, bukan karena pertimbangan seni atau bukan seni, melainkan karena mengeksploitasi keperempuanan sebagai komoditas, dan merendahkan martabat perempuan. Jadi pornografi tidak dapat dibela dari dalam teori estetika, lama maupun baru. Pornografi memang bukan masalah estetika, melainkan masalah etika.

Setiap masyarakat memiliki standar moralitas yang tanpa itu eksistensi masyarakat itu sendiri goyah atau bahkan berakhir. Moralitas pada dasarnya berfungsi melindungi baik dunia sosial bersama maupun dunia subyektif masing-masing individu. Tentu standar moralitas itu juga berkembang bersama perkembangan masyarakat pendukungnya. Potensi-potensi kreatif dalam masyarakat sewaktu-waktu akan tampil menawarkan alternatif, juga unsur-unsur luar akan ikut bertarung mendapatkan tempat berpijak dalam masyarakat.

Akan tetapi di pihak lain, masyarakat dan setiap anggotanya, berhak melindungi diri dan eksistensinya dari apa-apa yang dianggap immoral, baik yang sifatnya sekadar bertentangan dengan standar moralitas yang ada (seperti mempublikasikan gambar-gambar erotik dan pornografi), maupun yang dikhawatirkan dapat membawa konsekuensi fundamental terhadap tata-nilai dan tata-hubungan-sosial yang masih diakui (misalnya tuntutan melegalkan homoseksual, perkawinan sesama jenis). Realisasi hak itu adalah penggunaan institusi perangkat hukum yang ada oleh masyarakat. Inilah landasan moral pelarangan pornografi berikut ancaman sanksi hukumnya.

Dan justru karena merupakan masalah etika, pornografi tidak dapat berlindung di belakang kebebasan pers. Apa yang disebut kebebasan pers bukan kebebasan subyektif yang berkaitan dengan etika privat, melainkan kebebasan yang sifatnya politik berkaitan dengan etika sosial. Artinya, kebebasan pers tidak dapat dilepaskan dari keterikatannya pada ruang sosial bersama.

Kebebasan pers merupakan hak yang sifatnya korelatif, hak untuk terealisasinya hak lain, yaitu hak warga untuk mendapat informasi serta hak menyatakan pendapat dan mengontrol kekuasaan, kekuasaan negara atau pemerintah, tetapi juga kekuasaan masyarakat, termasuk kekuasaan pers sendiri. Jadi dasar legitimasi kebebasan pers konstruktif, tidak bisa destruktif. Adalah konstruktif, dan karenanya absah, apabila kebebasan pers digunakan membongkar kasus perkosaan, tetapi adalah destruktif apabila kebebasan pers itu digunakan menggambarkan secara sensasional bagaimana perkosaan itu berlangsung.

Kata seorang pemikir, dalam diri setiap kita bertemu konflik kehendak dan hierarki kehendak, dan moralitas dapat memberi petunjuk menentukan prioritas kehendak yang tidak konflik dengan tata-nilai yang masih diakui absah dalam dunia sosial bersama. Tetapi di tangan yang tak kompeten, kebebasan pers memang rawan penyalahgunaan. Karena itu, di samping rambu etik, yang prinsip positifnya sudah dirumuskan sendiri dalam yang disebut kode etik pers, kebebasan pers memerlukan juga kawalan rambu-rambu yustisia.entahlah yang benar yang mana # edza_nirmana #

Pandangan tentang seniman

Posted in seniman on December 25, 2007 by desainkomunikasivisual

Unik, nyentrik, aneh, santai…….ungkapan-ungkapan semacam itni sudah tidak asing lagi bila terlontar dari mulut dari orang yang berkabetulan bertentangga dengan mahluk yang beepredikat Pekerja Seni ini. Apapun yang dilakukan kebetulan tidak sesuai dengan ukuran baku kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya, akan disambut dengan kalimat “Maklum diakan Seniman”,seolah-olah kalimat ini menjadi pembenaran bahwa menjadi seniman sudah pasti akrap dengan atribut keanehan seperti itu.

Menjadi seniman yang hidup ditengah-tengah masyarakat yang heterogen sebenarnya bukan suatu hal yang aneh, kalau boleh dikatakan istimewa. Bagi masyarakat awam, kehadiean seniman ditengah-tengah mereka sering dipandang unik namun bisa memberikan warna lain dalam kehidupan mereka. Hal ini tidak lain karena kebiasaan dan tampilan seniman yang tampak berbeda dengan lingkingan tempat ia tinggal. Dari kebiasaan berpenampilan, pola kerja, kendaraan, dan rutinitas ia sehari-hari, sehingga akan mempermudah orang yang kesulitan mencari alamatnya. Tinggal tanyakan pada tukan becak dan embok-mbok yang berjualan di pinggir jalan, pasti beres.

Pada umumnya, masyarakat beranggapan bahwa kerja adalah : aktifitas pada suatu instansi baik negri maupun swasta. Pergi pagi pulang sore dengan upah nominal sekian rupiah. Sedemikian sulit untuk mengubah persepsi dan pandangan mereka dengan nilai kerja yang sesungguhnya. Kadang pola kerja seniman tidak bisa diatur seperti itu. Lebih disebabkan oleh pengayakan ide-ide kreatif tidak bisa dilakukan dengan secepat menghitung hari. Kalau kita amati lebih cermat, sesungguhnya seniman memiliki jam kerja yang tidak terbatas dibanding masyarakat pada umumnya. Bayangkan saja, ia masih harus bekerja ketika orang lain sudah enak dengan mimpi-mimpinya ( tertidur pulas ) karena seniman memiliki pola kerja dan pola tidur yang tidak teratur dan para seniman menganut faham “sesempatnya” . mereka justru lebih terlihat sungguh-sungguh bekerja dibanding pegawai lain.

Seniman memiliki tanggung jawab yang tidak ringan di dalam masyarakat, disatu sisi dituntut aktif dalam kegiatan bermasyarakat sedangkan di sisi lain harus disibukkan dengan menggali potensi diri dan menumbuhkan ide-ide kreatif. Ketika kedua aktifitas tersebut berbenturan sedah barang tentu harus ada bagian yang tidak dapat di penuhi sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk menghadiri beberapa undangan RT, ronda, bahkan untuk sekedar kerja bakti. Terlebih bila dead linepameran serasa mengejar-ngejar. Waktu yang tersedi8a 24 jam sehari serasa kurang. Sehingga dapat dimaklumi jika ada beberapa seniman cenderung menari diri dan kurang bersosialisasi dengan lingkungannya. Namunh dalam banyak hal, masyarakat membutuhkan peran sesosok seniman. Ketika memasuki wilayah yang memerlukan ide-ide kreatif dan artistik, peran seniman sangat menentukan. Sehingga tanpa disadari, seniman sudah memberikan wawasan penjelajahan kreatif pada masyarakat sekitarnya.

Berdasarkan kebiasaan yang berbeda itulah sehingga seorang seniman mudah lebih dikenali. Terlepas dari tampilan visual karya-karya meraka dan seberapa sering mereka berpameran. Kehadiran seniman ditengah-tengah masyarakat mampu memperkaya atmosfir bagi kehidupan mereka yang selalu penuh dengan rutinitas.

Desainer grafis yang seniman

Posted in seniman on December 25, 2007 by desainkomunikasivisual

Setalah cukup lama saya beradaptasi dengan dunia desain ilmu dan ide-ide saya yang dulu sangan idealis serta ilmu menutupdiri saya semakin lama semakin luntur dengan adanya proses pembelajaran dan adaptasi dengan lingkungan saya berhasil, diakhir-akhir ini saya baru sadar bahwa dunia desain grafis ini adalah dunia yang ekstrime dimana kita bias hidup dengan satu karya desain misalnya komik, web, diskom, fotografi dll. Sehingga satu jurusan yang saya jalani mempunyai banyak lahan untuk mencari uang.

Dan sukseslah saya telah memasuki dunia desain grafis yang dulu saya sangat benci dan males dengan karya-karya desain. Menurut saya, “ saya akan sukses di dunia desain grafis ini ketika karya seni saya mampu diterima, dicerna dan mampu diterapkan oleh khalayak umum”.

Seni rupa mempunyai banyak jurusan, namun jurusan Seni Murni dan Desain Grafislah yang menonjol untuk saat ini. Dunia desain grafis adalah dimana sang desainer mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan seperti : Komikus, Desainer, Ilustrator, Fotografer dll. Desain grafis tersebut adalah bagian dari seni rupa yang mempunyai banyak peluang-peluang menguntungkan. Namun ketika saya flash back kebelakang sebelum saya memasuki dunia desain grafis sendiri saya telah MATI dalam suatu pemikiran-pemikiran bahwa kelak saya akan menjadi seniman, dimana saya bebas berekpresi dengan pemikiran-pemikiran saya tanpa memikirkan fungsi dan kepentingan orang banyak. Jika saya mampu menjual karya lukisan saya dengan harga yang berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar saya bangga dengan hal itu, namun ketika saya memasuki dunia desain untuk yang pertama kalinya saya mati akal dan gagasan yang lainnya karena dunia desain ini mampunyai kepentingan bagi orang orang banyak dimana karya desain saya harus mampu tercerna oleh khalayak umum serta saya harus memikirkan kaidah-kaidah desain yang lain.

Budaya

Posted in Budaya on December 21, 2007 by desainkomunikasivisual

Pengaruh perkembangan zaman membuat semua keadaan berubah menjadi lebih modern serta keadaan yang dulu tradisional menjadi lebih ribet serta nilai-nilai budaya telah hilang bersama perkembangan zaman dan tehnologi itu sendiri.

Perubahan sangat cepat lahan kosong telah berubah menjadi bangunan yang liar serta sejuknya udara telah dengan panasnya globalisasi. Perkembangan zaman sangat berperan besar dalam hancurnya dunia ini, dimana dunia yang semakin lama semakin memburuk keadaannya. Bukannya zaman telah maju serta pola pikir kta malah merubah keadaan yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi lebih buruk.

Zaman menjadi maju kebudayaan menjadi terlupakan, dikarenakan mereka lupa dengan nilai-nilai kebudayaan yang mengantarkan kemajuan zaman tersebut. Dari sisi lain orang mengatakan bahwa budaya adalah budidaya manusia atau hasil buatan manusia tapi budaya disini saya katan budaya merusak bukan membangun.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.